Salah Kaprah Tentang Kenaikan Cukai Rokok

Pihak yang paling getol ketika berbicara soal tarif cukai adalah para kelompok anti-rokok. Tulus Abadi misalanya, salah satu pemimpin Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini berpendapat bahwa sebaiknya tarif cukai dinaikkan sebesar 75% dari harga jual eceran.

Ada lagi salah satu peneliti dari Universitas Indonesia yang mengeluarkan pendapat; sebaiknya harga rokok berada di harga 70 ribu perbungkus atau di atasnya lagi. Makin mahal makin baik, demi besarnya pendapatan Negara dari cukai tersebut.

Hal ini jelas salah kaprah. Ada agenda dan maksud lain mereka mengeluarkan statement terkait harga cukai yang ‘layak’ diterapkan di Indonesia. Mereka berdalih ingin masyarakat lebih sehat dan tidak merokok. Anak-anak di bawah umur tak merokok. Dan para perokok akan menjadi non perokok karena harganya yang cukup mahal per bungkusnya.

rokok

Mari kita dedah satu persatu. Soal masyarakat menjadi lebih sehat karena tidak merokok ini salah total. Rokok bukanlah salah satu penyebab utama terjadinya resiko orang terkena penyakit. Kanker misalnya, selama ini digembar-gemborkan disebabkan oleh rokok, nyatanya salah. Penyebab seseorang bisa terkena kanker ternyata ada bermacam-macam. Salah satu penyebab utama adalah obesitas (kegemukan berlebih), hal ini didapatkan dari gaya hidup yang tak sehat, pola makan, dan tidur serta faktor polusi udara. Perokok aktif yang sanggup menjaga dirinya dengan tetap berolahraga, menjaga gaya hidup dengan makan dan tidur yang baik relatif tidak berpotensi terkena kanker. Hal ini sudah banyak dibuktikan di riset-riset ilmiah terkini.

Soal mencegah anak-anak di bawah umur agar tak merokok tak bisa disimpulkan caranya dengan menaikkan harga rokok, ini juga salah kaprah. Untuk membuat anak-anak tak merokok perlu kerjasama banyak pihak. Salah satunya dengan mengetatkan aturan penjualan rokok. Pedagang rokok perlu lebih ketat menjual rokok kepada anak-anak yang belum cukup umur melakukan aktivitas legal yang dilindungi Negara ini.

bungkus rokok

Para orang tua perlu mengedukasi anak-anaknya untuk memenuhi aturan dan tanggung jawab yang dibebankan kepada perokok. Ini tak ubahnya dengan mencegah anak-anak untuk menggunakan kendaraan bermotor di usia yang belum cukup, caranya tentu bukan dengan menaikkan harga motor, tapi dengan mengetatkan aturan penggunaan kendaraan bermotor oleh banyak pihak, termasuk orangtua.

Soal harga mahal rokok akan menyebabkan para perokok tak membeli rokok juga salah. Perokok rata-rata orang yang kreatif. Solusi menaikkan harga rokok, tak menyurutkan langkah para perokok, toh di Indonesia ada banyak Industri rokok kecil yang berkembang dan berproduksi. Banyak lagi lintingan dari tembakau-tembakau pilihan yang dijual di toko-toko kelontong. Mereka akan beralih ke produk-produk tersebut. Hal ini malah nantinya akan merugikan Pemerintah, karena banyaknya rokok yang tak bercukai beredar di pasaran karena mahalnya harga cukai rokok.

rokok

Soal banyaknya pendapatan Negara yang diterima jika harga cukai dinaikkan berkali-kali lipat juga merupakan hal yang salah. Salah, karena di Indonesia, Industri rokok skala menengah kecil yang jumlahnya sangat banyak, dan merekalah yang menyumbang besar pendapatan Negara. Jika cukai dinaikkan, maka Industri menengah kecil inilah nantinya akan bangkrut dan tutup karena biaya operasional yang cukup besar. PHK akan terjadi besar-besaran. Industri rokok besarlah yang akan senang dan menanggung keuntungan dari hal ini. Dan jelas, secara langsung pendapatan Negara akan jauh lebih berkurang karena banyak Industri menengah kecil yang gulung tikar.

Pada akhirnya, kenaikan cukai rokok memang tampak bagus di luar, namun sejatinya salah kaprah dan penuh dengan cacat logika

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *