Rokok dalam Perspektif Anti Tembakau: Junk Science Vs Monica Study

Anda barangkali akan lebih mudah menemui kutipan atau pernyataan WHO (Badan Kesehatan Dunia) yang mengatakan bahwa rokok atau produk tembakau lainnya merugikan kesehatan dan tidak ada batas aman.

bungkus rokok

Seperti data yang mereka lansir pada 3-4 Februari 2013 di High Level Round Table di Brussels melalui paper Tobacco & Health in the Devoloping World, diperkirakan 4,9 juta kematian per tahun disebabkan oleh tembakau. Menurut WHO diperkirakan tahun 2020 angka kematian jadi dua kali lipat dan rata-rata 70% kematian terjadi di negara-negara berkembang.

rokok

Data-data seperti itulah yang terus diungkap oleh WHO dan kelompok anti tembakau. Monica Study sama sekali tidak pernah disinggung dan bahkan ditutup rapat-rapat agar tidak diketahui publik secara luas.

Padahal, Monica Study merupakan salah satu penelitian terbesar dan terlama yang pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan di 21 negara dan berlangsung selama 10 tahun, serta menghimpun informasi dari dari 150.000 serangan jantung, utamanya di Eropa Barat, Rusia, Iceland, Canada, Cina, dan Australia.

rokok

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini gagal menemukan hubungan antara serangan jantung dengan faktor-faktor risiko klasik, seperti merokok dan tingkat kolesterol yang tinggi.

Justru kegelisahan, kemiskinan, dan perubahan ekonomi dan sosial yang mempunyai kaitan erat dengan penyakit jantung. Seseorang bisa jadi berhenti merokok atau bahkan tidak merokok sama sekali, namun kehilangan rumah tempat tinggal secara umum bisa menyebabkan ia berada pada risiko terkena penyakit jantung karena faktor stres.

rokok

Itulah sebabnya, sejumlah ilmuwan kritis seperti Lauren A, Colby, Robert A. Levy, Rosalind B. Marimont, dan Judith Hatton tetap heran dengan kampanye-kampanye anti rokok yang tetap mengeluarkan propaganda-propaganda berdasarkan pada penelitian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sumber Bacaan: Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat, INSISTPress 2010.

Gambar ilustrasi: Eko Susanto

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *