Perkembangan rokok di Surakarta dan Yogyakarta

Pada zaman penjajahan Belanda, di daerah Surakarta dan Yogyakarta banyak ditemukan rokok nipah. Rokok yang dibuat dengan menggunakan bahan pembungkus daun nipah. Masyarakat kala itu melinting sendiri daun nipah untuk merokok. Tembakau yang digunakan diperoleh dari berbagai campuran daun tembakau dengan rempah. Campuran ini di Jawa dinamakan wur atau uwur.

rokok

Campuran untuk isian rokok nipah, masyarakat Jawa menggunakan banyak sekali bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan lain-lain. Aneka ragam bahan campuran ini kemudian oleh Mas Ngabehi Irodiko -seorang Mantri Keraton Solo- diracik sedemikian rupa menjadi rokok lintingan yang diberi nama rokok diko.

Hasil temuan Mas Ngabehi Irodiko ini kemudian tersebar luas di masyarakat Surakarta. Bahan campuran yang sedemikian banyak dan susah untuk meraciknya, memunculkan industri rumah tangga kecil-kecilan. Kerajinan pembuatan rokok diko ini awalnya hanya ada di kota Solo kemudian meluas dalam tempo singkat, hingga ke Yogyakarta. Rokok diko ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890. Penemuan ini dicatat oleh Van Der Reijden, salah satu peneliti dari Belanda.

rokok klobot

Kerajinan rumah tangga rokok diko ini kemudian berkembang menjadi industri rumahan, dengan jumlah pekerja yang lebih banyak dan produksi rokok diko yang lebih besar. Pelan namun pasti berdiri beberapa perusahaan rokok di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Dimulai dari tahun 1897 di Sala, Kabupaten Karanganyar tahun 1906, Sragen tahun 1908, Klaten tahun 1911, Boyolali tahun 1906, Wonogiri tahun 1920, Yogyakarta tahun 1914, di Bantul 1919, Adikerta tahun 1924 dan di Kulon Progo tahun 1927. Data temuan detail tahun perusahaan rokok kecil ini ditemukan oleh Van Der Reijden.

rokok

Rokok-rokok lintingan yang diproduksi di daerah Yogyakarta kemudian berkembang dengan memproduksi banyak jenis rokok. Inovasi tersebut juga akhirnya membuat banyak industri di daerah kerajaan Surakarta juga melakukan hal yang sama. Aneka rokok lintingan tersebut kemudian dikenal dengan sebutan kretek. Ada delapan jenis koleksi rokok sigaret dan non-sigaret yang muncul pada tahun 1930, belum lagi ditambah adanya sigaret kretek yang dibuat dengan menggunakan tambahan cengkeh.

Hasil produksi perusahaan-perusahaan kecil ini kemudian tersebar hanya di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Beberapa perusahaan yang lebih besar, memproduksi dan menyebarkannya ke kabupaten dan daerah-daerah terdekat. Salah satu perusahaan pabrik kretek di Solo bahkan menyebarkannya mulai dari Semarang, Jawa Timur hingga ke Papua.

orang merokok

Dari penelitian yang dilakukan Van Der Reijden, rokok kretek ternyata mampu menghidupi banyak orang di daerah Surakarta, Yogyakarta dan Solo sejak akhir abad ke-18. Persebaran produksi rokok kretek juga dimulai dari usaha-usaha kerajinan rakyat, hingga akhirnya berbentuk industri kecil hingga berubah menjadi perusahaan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *