Perdebatan Ulama NU dalam Menimbang Hukum Rokok

Ada banyak cerita lain perihal folklor kretek yang tertutur turun temurun di masyarakat Nusantara. Folklor meliputi legenda, musik, sejarah, lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Tentang kretek ini, ulama-ulama NU pada jaman dulu punya banyak sekali folklor.

rokok

Temanggung dan Kudus misalnya, pada sekitar abad ke 19 ada cerita tentang kretek, Sunan Kedu dari Temanggung dan Sunan Kudus. Dahulu antara Sunan Kudus dan Sunan Kedu terjadi pertemuan yang disarankan oleh Sunan Kalijaga, agar Sunan Kudus memberikan bingkisan kepada Sunan Kedu.

Bingkisan yang disarankan untuk dibawa salah satunya adalah tanaman tembakau. Awalnya tanaman tembakau yang dibawa Sunan Kedu tidak memuaskan, namun setelah kembali lagi meminta arahan Sunan Kudus, barulah memuaskan dan menghasilkan tembakau “srintil”.

Srintil adalah jenis varietas tembakau berkelas, hanya didapati di daerah tertentu, yaitu sekitar lereng gunung Sindoro-Sumbing Kabupaten Temanggung. Hasil dari pertemuan tersebut antara Sunan Kedu dan Sunan Kudus yaitu dibentuknya komitmen pembagian wilayah. Temanggung sebagai bahan baku tembakaunya, dan kota Kudus yang mengolah bahan baku tersebut untuk menjadi kretek.

rokok klobot

Salah satu Folklor tentang Kretek yang paling sering diingat adalah cerita tentang Haji Djamhari. Haji Djamhari mempunyai penyakit asma, dan ia mencoba untuk mengatasinya dengan melinting tembakau yang dicampur dengan cengkeh. Kelak, lintingan inilah yang kemudian kita kenal hingga saat ini dengan sebutan Kretek.

Folklor di atas ini kemudian diteruskan ke masyarakat, khususnya masyarakat di kalangan santri NU. Baik di daerah Temanggung, Kudus, dan beberapa daerah penghasil tembakau yang lain

Tradisi dan cerita soal kearifan lokal kretek ini mengundang perdebatan ulama-ulama NU untuk mengeluarkan fatwa atau hukum soal merokok.

Bahsul masail tentang rokok atau kretek terjadi di Kudus pada tahun 1980. Menurut cerita KH. Sya’roni Ahmadi, ulama asal Kudus yang pada saat itu ada dalam forum bahsul masail tersebut, menceritakan bahwa para ulama yang hadir pada saat itu terdiam sesaat memandang almarhum K.H. Turaichan Adjhuri as Syarofi yang menyulut sebatang kretek saat hendak memimpin bahsul masail, padahal bahasan utamanya bahsul masail tersebut adalah masalah hukum merokok.

Pada akhirnya almarhum K.H. Turaichan Adjhuri as Syarofi memutuskan hukumnya “makruh”. Akan tetapi disela-sela penjelasan, salah satu ulama bernama almarhum K.H. Hambali menginterupsi forum dengan mengatakan jika tidak merokok, beliau tidak dapat mengajar. Kemudian hasil forum itu diubah lagi. Almarhum K.H. Turaichan Adjhuri as Syarofi menjawab dengan tegas, hukum kretek bagi almarhum K.H. Hambali “wajib”.

orang merokok

Salah satu referensi utama sebagai pegangan ulama NU adalah, kitab (buku) berbahasa Arab berjudul “Irsyad al- Ikhwan li Bayani syurbi al-Qohwati wa al-Dukhon (tuntunan bagi segenap saudara penjelasan tentang minum kopi dan kretek)” karya Syekh Ihsan Jampes dari Kediri. Satu referensi yang ada pada abad ke-20 (1901-1952), dan merupakan potret karya ulama Nusantara dalam membahas secara detail hukum merokok.

Pegangan hasil forum yang terjadi pada tahun 1980 tersebut kemudian diubah lagi pada tahun 2010 dalam forum bahsul masail para kiai NU di Surabaya. Forum ini diadakan sebagai bentuk perlawanan terhadap hasil ijtima’ (pertemuan) anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Padang Panjang Sumatra Barat, tahun 2009.

Dalam pertemuan MUI tersebut hasilnya adalah mengeluarkan fatwa haram untuk rokok.

Keluarnya fatwa haram tersebut, menurut K.H. Aziz Masyhuri yang saat itu datang dalam pertemuan di Padang Panjang, bahwa keputusan yang diumumkan tidak mewakili dinamika perdebatan yang telah berlangsung, dan tidak sesuai kesepakatan awal yang telah diumumkan oleh K.H Ma’ruf Amin (selaku ketua sidang) yaitu memutuskan ikhtilaf (terjadi perbedaan), antara boleh dan tidak boleh merokok.

rokok

Ketidakbolehan merokok didasarkan pada unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan. Dan dalam al-Qur’an tidak ada satu pun teks yang mengarah langsung tentang ketidakbolehan merokok. Hasil bahsul masail di Surabaya yang dihadiri para Kiai NU Jawa Timur dan beberapa dokter, memutuskan hukum merokok mubah (boleh).

Ulama-ulam NU dan seluruh anggotanya memandang perdebatan tentang hukum haram dalam merokok sangat tidak tepat. Hal ini didasarkan pada aspek-aspek sosiologis. Dalil ulama MUI yang hanya berdasarkan pada teks kitab suci dan hukum Islam kurang begitu tepat. Jutaan orang mengantungkan hidupnya pada tembakau, misalnya di daerah Temanggung. Akan sangat menyakitkan bagi mereka ketika pekerjaan sehari-harinya dianggap haram dan tak bermanfaat. Ulama-ulama NU sadar betul akan hal ini.

Di luar perdebatan tentang hukum rokok dan merokok, sudah sepatutnya kita belajar dari folklor nusantara. Warisan kearifan lokal berupa tanaman tembakau, cengkeh dan banyak lainnya patut terus kita jaga dan lestarikan. Menjaga tradisi adalah wajib, sebagai bentuk penghargaan akan orang-orang jaman dulu, dan sebagai bentuk mencintai negeri ini.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *