rokok

Pemerintah Harus Tau, Gambar Peringatan 90 persen Adalah Sia-Sia

Belum usai kebijakan kenaikan cukai, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan kembali bermanuver menyerang Industri Hasil Tembakau. Kali ini isu yang diangkat adalah revisi Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif.

Sebagaimana yang diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi, revisi PP 109 difokuskan pada kenaikan komposisi gambar peringatan dari 40  menjadi 90 persen. Revisi ini sudah sampai pada tahap pembahasan antar kementerian. 

kemasan rokok

Tentu saja kebijakan konyol ini mendapat penolakan dari berbagai pihak. Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) misalnya. Revisi PP 109 melanggar hak konsumen untuk memilih produk. GAPPRI menilai beleid yang diusulkan oleh Kemenkes tidak memiliki alasan jelas. Kenaikan komposisi gambar peringatan di bungkus rokok menjadi 90 persen tidak akan membuat jumlah perokok berkurang, justru membuat perederan rokok ilegal semakin marak lantaran perbedaan masing-masing merek berkurang.

Senada dengan Henry, Kepala Sub Direktorat Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mogadishu Djati Ertanto menyebut penerapan brand restriction serta plain packaging ternyata meningkatkan peredaran rokok ilegal di Australia. Tak tertutup kemungkinan hal tersebut juga akan terjadi di Indonesia.

macam-macam bungkus rokok

Menurutnya, ketika brand restriction serta plain packaging diterapkan di Australia pada 2012, peredaran rokok ilegal yang diselundupkan tercatat naik dari 11,5 persen menjadi 13,5 persen. Tentunya peredaran rokok ilegal itu merugikan negara karena mereka tak membayar cukai dan pajak.

Djati mengatakan peningkatan peredaran rokok ilegal di Indonesia kemungkinan akan lebih besar dibandingkan Australia jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan. Pasalnya, kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas kepulauan akan mempersulit pengawasan yang dilakukan oleh pihak berwenang.

bungkus rokok

Hal lain yang dikhawatirkan terjadi adalah munculnya persaingan tidak sehat antar produsen rokok di Indonesia. Pasalnya, terbuka kemungkinan pemboncengan reputasi merek yang sudah dikenal luas dan merek baru atau yang memiliki ekuitas rendah bisa menghilang lantaran tak mampu bersaing.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur, Mochammad Rizal, juga menolak rencana penerapan bungkus rokok dengan komposisi gambar peringatan hingga 90 persen. Rizal menganggap masyarakat sudah dewasa dan dapat menentukan pilihannya sendiri.

Pemerintah memang kadang-kadang lucu, mereka tidak tau apa yang sedang mereka lakukan. Menaikkan presentase peringatan gambar rokok adalah kegiatan sia-sia yang hanya membuang anggaran negara, karena perokok tau, kenaikmatan rokok itu ketika mengisap bukan melihat gambar bungkusnya.

orang merokok

About the author

admingr

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *