Rokok Menurut Pandangan Ulama Nusantara

Bagaimana hukum merokok dalam Islam?

Pertanyaan itu dilontarkan dalam forum Bahtsul Masail di Kudus pada 1990. Mendengar ada pertanyaan semacam itu, seorang kiai kharismatik yang terkenal alimnya, KH Turaichan Adjuhri (Mbah Tur), yang juga hadir dalam forum tersebut tak segera bereaksi. Ia hanya mengambil sebatang rokok kretek, menyulut dan menghisapnya, kemudian berkata, “Ya udah, sekarang silakan dibahas!”

bungkus rokok
bungkus rokok

Di sela-sela pembahasan ada seorang anggota Bahtsul Masail yang juga seorang kiai, bertutur bahwa dirinya kalau tidak merokok pikirannya malah mandek dan tak bisa mengajar. Hukum merekok untuk yang mempunyai keluhan semacam ini, Mbah Tur menekankan, merokok malah jadi wajib.

Sebenarnya, pembahasan tentang hukum merokok dalam Islam sudah lama berlangsung. Terlebih pihak kerajaan di Arab Saudi mengharamkan rokok pada masa pemerintahan Sultan Turki (Raja Murad I). Dan kemudian ulama-ulama belahan dunia memberikan tanggapan sehingga terjadi diskursus menarik. Termasuk di Indonesia.

gambar rokok
gambar rokok

KH Ahmad Dahlan, seorang kiai dari Semarang, mengeluarkan dua kitab kuning yaitu Tadzkiratul Ikhwan Li Bayani Syurbil Gahwah Wad Dukhan (Peringatan Kepada Saudara, Penjelasan Meminum Kopi dan Rokok) dan Nazhatul Ifham fi Ma Ya’tarid Dukham Minal Ahkam (Kilasan Pemahaman tentag Hukum-hukum Seputar Rokok). Pada kemudian hari, murid KH. Ahmad Dahlan yang bernama KH. Ihsan Jampes juga mengarang kitab Irsyadul Ikhwan Li Syurbil Qohwah Wad Dukhon (Petunjuk Kepada Saudara, Penjelasan Hukum Meminum Kopi dan Rokok).

Penjelasan dari ulama-ulama Nusantara tersebut memberikan informasi tentang hukum kretek dan kopi, yang seperti khusus di Indonesia tidak bisa terpisahkan, yang notabene bersifat mubah (boleh).

gambar rokok
gambar rokok

Sejarah keputusan fatwa rokok Nadhlatul Ulama menunjukkan konsistensi tafsiran para ulama Nusantara tentang hukum merokok sebagai sesuatu yang boleh-boleh saja.

Hal ini justru menegaskan bahwa penerimaan para ulama pesantren Nusantara. Bahkan budaya mengkretek merupakan tradisi integral yang tidak bisa dipisahkan dalam Islam Nusantara. Sejak dahulu, para ulama melihat tembakau telah menjadi basis kedaulatan ekonomi santri dan ulama Nusantara.

Foto oleh : Eko Susanto

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *