Meramal Nasib Industri Rokok Indonesia Setelah Investasi Asing Dipermudah

Indonesia adalah pasar tembakau yang sangat besar, salah satu yang terbesar di dunia. Industri rokok merupakan satu satunya Industri yang masih bertahan kokoh bila dibandingkan dengan industri yang lain yang berguguran satu per satu sepanjang era reformasi. Mulai dari industri besi baja, paku, kawat, semen, petrokimia, kayu, dan lain sebagainya.

Saat ini industri rokok masih berjaya, menyumbangkan pendapatan cukai bagi negara yang cukup besar, menyediakan kesempatan kerja, dan meningkatkan nilai tambah ekspor non migas Indonesia. Baru-baru ini mampu menambal biaya defisit BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia.

rokok

Sejarah industri tembakau adalah berasal dari usaha rakyat, dikerjakan oleh orang banyak, menjadi bagian dari tradisi sosial masyarakat. Dimulai dari menanam tembakau hingga membuat produk berupa rokok. Hingga dalam pergaulan sosial sehari-hari muncul istilah uang rokok sebagai suatu pemberian kepada teman, sahabat atau keluarga.

Namun sayang dalam perjalanannya industri tembakau semakin tersentral pada segelintir perusahaan saja. Satu persatu usaha tembakau dan membuat rokok yang dikerjakan oleh rakyat bangkrut, bahkan ratusan ribu jumlahnya, hancur karena beberapa hal yakni kebijakan Pemerintah, lemahnya dukungan Pemerintah, impor tembakau, modernisasi alat pembuat rokok, dan perubahan cita rasa masyarakat yang dibentuk oleh pemain besar.

Serangan kebijakan Pemerintah, telah mengakibatkan usaha pertanian tembakau yang merupakan dasar atau fondasi bagi industri rokok, juga hancur. Dan itu terjadi bertahun-tahun setelah kebangkitan Industri rokok pasca era reformasi. Kebijakan seperti menaikkan harga cukai rokok tiap tahunnya, membuat kebijakan gambar seram pada bungkus rokok, membuat peraturan mengenai KTR di seluruh wilayah Indonesia, dan lain sebagainya.

Indonesia adalah negara agrarian. Indonesia yang sangat terkenal kualitas tembakaunya sejak jaman kolonial dan menjadi motivasi utama penjajahan Belanda menjajah Indonesia, kini menjadi importir tembakau. Sekarang hampir separuh tembakau yang diperlukan oleh industri nasional diimpor. Lebih dari 60% impor berasal dari Tiongkok.

Masalah impor bahan baku dipandang remeh oleh industri tembakau besar nasional. Mereka beranggapan bahwa mereka juga bisa membeli dari impor. Padahal tidak demikian ketika pesaing-pesaing mereka perusahaan multinasional mulai menjalankan taktiknya maka pabrik pabrik rokok nasional pasti akan kehilangan akses terhadap bahan baku.

Kalangan pengusaha besar tembakau kurang memahami masalah semacam ini. Mereka berpikir bahwa selamanya akan berjaya. Padahal tidak demikian. Satu persatu perusahaan rokok nasional jatuh ke tangan asing.

orang merokok

Sampoerna dikuasai asing, gudang garam, bentoel, dan yang lain-lain terancam masalah yang sama yakni cepat atau lambat akan jatuh ke tangan asing.

Hasilnya uang ekonomi tembakau lari keluar semua.

Saat ini Pemerintah sudah mengeluarkan peraturan melalui paket kebijakan ke-16, memperbolehkan asing menguasai 100% usaha membuat rokok putih, rokok kretek dan rokok lain-lain.

Berarti sudah tidak ada batasan lagi. Kalau dulu mereka perusahaan asing mengirim bahan baku tembakau bagi industri di Indonesia, sekarang mereka bisa membangun sendiri, atau pura-pura membangun industri akan tetapi ternyata hanya gudang penyimpanan rokok yang telah diproduksi di luar negeri.

rokok

Mereka para perusahaan/pengusaha asing telah memiliki lisensi untuk menguasai 100 persen kepemilikan dalam usaha rokok. Tamatlah riwayat petani tembakau, pabrik rokok rakyat dan pabrik rokok nasional.

Pemerintah harusnya sadar betul akan hal ini. Alih-alih membuka akses selebar mungkin untuk bertumbuhnya Industri di dalam negeri, justru seluruh pendapatannya akan lari ke para pengusaha dan perusahaan asing. Jangan sampai nanti ke depannya, Industri rokok nasional, utamanya kretek hilang dan tak lagi ada di Indonesia. Dan yang paling buruk lagi Negara tak mendapatkan untung dari Industri ini.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *