Logika Kacau Argumen Kenaikan Harga Rokok untuk Mengurangi Perokok Pemula

Isu kenaikan harga rokok tiap tahunnya selalu berkutat pada masalah kesehatan, ekonomi dan perokok di bawah umur. Khusus untuk tahun ini, kelompok anti-rokok lebih banyak menyinggung soal anak-anak dan perokok pemula.

Kelompok anti-tokok mengampanyekan agar harga rokok dinaikkan agar tidak banyak anak-anak yang membeli rokok sehingga jumlah perokok pemula berkurang drastis.

Hal tersebut secara logika tentu saja bermasalah, sebab banyak tidaknya jumlah perokok anak-anak adalah soal aturan kebijakan dan pengendalian pembelian, bukan soal harga yang murah atau mahal.

rokok

Rokok adalah salah satu produk yang penjualannya diperuntukkan jelas-jelas untuk orang yang berusia 18 tahun ke atas. Aturan ini sudah cukup jelas, tinggal aplikasi di lapangannya yang diperketat.

Contoh sederhana adalah ponsel. Banyak ahli yang mengatakan bahwa usia minimal anak untuk bisa menggunakan hape adalah 12 tahun, nyatanya, banyak anak-anak yang usianya di bawah 12 namun sudah punya hape sendiri, entah dengan membelinya lewat menabung, atau dibelikan langsung oleh orangtuanya.

rokok

Urusan sosial media juga tak jauh berbeda. Facebook, Twitter, Instagram, atau sosial media yang lain, misalnya, mensyaratkan pengguna agar berusia minimal 13 tahun, nyatanya, banyak anak-anak yang usianya di bawah itu namun tetap bisa menggunakan sosial media. Alasannya? Karena kurang ketatnya penerapan aturan penggunaan. Orangtua cuek saat anaknya menggunakan sosial media walaupun usianya belum mencukupi.

Hal ini tentu lebih relevan jika dihubungkan dengan aturan merokok. Kalau tujuannya adalah untuk menurunkan jumlah perokok pemula dan anak-anak, maka yang harus dipertegas adalah aturan jual-beli produknya. Bukan malah menaikkan harga rokok, yang justru akan berimplikasi pada banyak hal, dan berakibat fatal.

rokok

Industri ini memegang peranan penting dalam pembangunan Negara ini, menyerap jumlah tenaga kerja yang tak sedikit. Akan sangat merugikan, jika kebijakan dibuat hanya berdasarkan asumsi dan logika yang salah dari kelompok Anti-Rokok.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *