Gambar Baru di Bungkus Rokok dengan Logika yang Usang

Menjelang pergantian tahun Kementerian Kesehatan membuat regulasi baru guna membatasi peredaran rokok dan menekan jumlah perokok anak-anak. Peraturan ini diatur dalam Permenkes Nomor 56 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan Dan Informasi Kesehatan Pada Kemasan Produk Tembakau.

rokok

Aturan ini mengubah gambar-gambar dalam kemasan bungkus rokok yang beredar di pasaran, dengan gambar baru. Gambar baru yang dianggap lebih menyeramkan dan membuat pembelinya merasa ketakutan dan tidak jadi membeli rokok.

Regulasi Kementerian Kesehatan ini juga memuat nomor layanan berhenti merokok. Nomor layanan ini bertujuan agar klinik-klinik penyedia jasa terapi berhenti merokok bisa dapat pasien. Aturan ini bisa jadi memanfaatkan dana cukai pajak rokok agar terserap dan digunakan Kemenkes. Tentu hal-hal ini  perlu kita waspadai. Atas nama kesehatan, aturan untuk membatasi peredaran rokok di Indonesia, kian masif berjalan.

rokok

Dengan embel-embel kesehatan, perubahan-perubahan besar pada ketentuan muatan gambar dan peringatan tertulis di bungkus rokok dibuat lebih detail. Aturan lama dengan gambar kanker mulut, bapak yang gendong anak, dsb, akan ditambahkan dengan gambar dan peringatan yang lebih seram. Maksud dari tujuan adanya regulasi ini, agar menekan jumlah perokok di Indonesia.

Sekarang kita kembali ke masa di mana aturan gambar dan peringatan ini pertama kali muncul. Apakah jumlah perokok di Indonesia jumlahnya menurun, atau malah bertambah? Data-data ini yang harus dicek ulang lagi.

rokok

Jika ternyata dengan regulasi ini jumlah perokok di Indonesia ternyata tidak menurun, perlu kiranya untuk tidak kembali mengubah gambar dan peringatan dalam bungkus rokok. Jika tujuannya untuk membatasi peredaran rokok, harusnya Kemenkes mengawal aturan bahwa rokok adalah produk yang tidak boleh dijual apada anak usia di bawah 18 tahun dan perempuan hamil. Aturan ini yang harus terus dikawal dan diterapkan, bukan malah membuat gambar-gambar dan peringatan menyeramkan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *