Dampak Kenaikan Cukai Terhadap Pekerja Rokok

Setiap tahunnya, Pemerintah selalu memiliki “kepentingan” meningkatkan penerimaan negara untuk memenuhi kebutuhan belanja setiap tahunnya. Salah satu cara untuk meningkatkannya dengan membuat kebijakan-kebijakan di sektor perpajakan, termasuk menaikkan harga cukai rokok. Namun besaran tarif cukai yang tinggi dalam 5-8 tahun terakhir ini menyebabkan penurunan jumlah buruh rokok. Hal ini yang tak disadari Pemerintah Negara ini.

rokok

Kenaikan cukai rokok ini akan berpengaruh pada buruh-buruh pabrik rokok dan pekerja di sektor pertembakauan di Indonesia. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) masih terjadi setiap tahun, salah satu faktornya adalah karena kenaikan cukai. Kalau omset turun, pengusaha pasti mem-PHK pekerjanya, ujar Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM-SPSI) Sudarto.

Kebijakan kenaikan cukai akan berimbas pada turunnya omset penjualan pada Industri. Jika industri tidak bisa mendapatkan dan menghasilkan keuntungan, maka efisiensi akan dilakukan. Salah satu cara termudah adalah dengan mengurangi jumlah tenaga kerja, agar industri tetap bisa hidup. Tentu ada beberapa Industri yang langsung tutup, mati, alias bangkrut karena kebijakan ini berdampak sangat besar, karena efisiensi sudah dilakukan bertahun-tahun lalu.

rokok

Cukai rokok yang semakin tinggi akan berimbas pada naiknya harga rokok. Tentu secara rasional, para pedagang rokok akan sangat terkena dampaknya. Mata pencaharian utama dari hasil penjualan rokok bakal menurun, belum lagi kalau menyinggung soal para pekerja di sektor pertembakauan. Para pelinting, buruh rokok, sopir distributor rokok, dll akan terancam tidak bekerja.

Pekerja-pekerja tersebut umumnya adalah mereka yang tidak punya ijazah tinggi dan ketrampilan yang terbatas.

rokok

Jika memang kepentingan kenaikan untuk menambah pemasukan Negara, Pemerintah harusnya melihat sektor Industri lain, bukan hanya Industri pertembakauan saja yang dilirik. Ketua FSP RTMM-SPSI sadar betul akan hal ini, sehingga sikap menolak kebijakan kenaikkan cukai ini terus disuarakan ke Pemerintah Daerah hingga ke Pusat, bahkan sampai Presiden RI.

Hal ini juga didukung dan dikuatkan oleh kelompok-kelompok yang sadar akan kebijakan yang kurang tepat ini. Salah satunya dari Ketua Paguyuban Mitra Produk Sigaret Indonesia (MPSI), Djoko Wahyudi. Beliau berpendapat, naiknya tarif cukai rokok juga akan menggerus pendapatan negara. Kalau tujuannya untuk menaikkan pendapatan dari pita cukai, saya pikir tidak tepat. Pendapatan industri pasti menurun dan mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK). Pemerintah akan mengalami dua kerugian besar.

Suara-suara tersebut juga dikuatkan dan didukung oleh Anggota Komisi XI DPR-RI, Andreas Eddy Susetyo. Andreas mengatakan pemerintah dapat menaikkan tarif cukai, namun jangan terlampau tinggi. Kita tahu dalam 2 tahun ini industrinya menurun, karena itu jangan sampai kenaikan cukai berlebihan sehingga justru kontraproduktif.

Ada banyak orang yang terlibat dalam industri sektor pertembakauan ini. Ada 6 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Jangan sampai kebijakan yang tidak tepat penerapannya ini membuat jumlah pengangguran semakin banyak.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *